You are here
Home > Islam > Fiqh > Makna Ikhlas Dalam Perspektif Sufi

Makna Ikhlas Dalam Perspektif Sufi

Ikhlas adalah sesuatu yang tak nampak dengan kasat mata. Ikhlas sering diucapkan oleh manusia tapi tanpa tahu makna yang sesungguhnya dari ikhlas itu. Sehingga ucapan ikhlas yang tak dilandasi pemahaman seperti melukis di pasir karena tidak keluar dari kepahaman yang mendalam.

Ikhlas merupakan nur dari nur Allah SWT. yang dititipkan Allah dalam hati hamba-Nya yang beriman, lalu Allah memotong nur itu dari selain-Nya. Itulah prinsip ikhlas.

Kemudian ikhlas itu bercabang menjadi empat kehendak:

  1. Kehendak ikhlas dalam beramal untuk mengagungkan Allah SWT.
  2. Kehendak ikhlas untuk mengagungkan perintah Allah SWT.
  3. Kehendak ikhlas dalam membersihkan dari cacat-cacat yang tidak bisa dihalau.

Semua kehendak tersebut kita lakukan. Barangsiapa berpegang pada salah satu dari kategori di atas, ia disebut dengan orang yang ikhlas (mukhlish) yang mendapatkan derajat di sisi Allah SWT. sebagaimana firman-Nya: “Allah Maha Melihat atas apa yang mereka kerjakan“.

Untuk itulah Allah SWT. menceritakan, sebagaimana dikisahkan Jibril kepada Rasulullah SAW. (Hadits Qudasi): “Ikhlas itu merupakan rahasia-Ku, yang Kutitipkan dalam hati orang yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku“.

imagesApabila engkau ingin selamat dari tipu daya, maka ikhlaslah dalam beramal semata-mata karena Allah SWT. disertai ilmu pengetahuan. Dan janganlah engkau rela sedikitpun terhadap nafsumu. Aku melihat seakan-akan aku thawaf di Ka’bah, untuk mencari ikhlas dalam diriku. Aku sedang menyelidiki ikhlas tersebut dalam rahasia batinku. Tiba-tiba ada suara yang tertuju, “Sudah berapa kali engkau ragu-ragu bersama-sama orang yang ragu. Sedangkan Aku adalah Maha Mendengar, lagi Maha Dekat, Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi. Pengenalanku mencukupkan dirimu dari ilmu generasi awal dan akhir, selain ilmu Rasul dan para Nabi.

Ikhlas itu ada beberapa kategori:

  • Ikhlas dari seorang yang mukhlish, maka ia ikhlas bersama-Nya dan ikhlas bagi-Nya.
  • Ikhlasnya kaum “Shadiqin” semata-mata untuk mendapatkan balasan dan pahala
  • Ikhlasnya kaum “Shiddiqin” semata-mata untuk memandang Wujud al-Haq, sebagai tujuan, bukan tertuju pada sesuatu di sisi-Nya.

Maka barangsiapa yang disinggahi hatinya oleh ikhlas yang sedemikian rupa itu, maka ia dikategorikan orang yang dikecualikan dari ucapan musuh-Nya, dengan firman-Nya: …”dan pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas.” (Q.S. Al-Hijr: 39-40).

Disarikan dari Fatwa Syekh Abul Hasan Asy Syadzili

Leave a Reply

Top