You are here
Home > Islam > Fiqh > Sisi-Sisi Keseimbangan Dalam Beribadah

Sisi-Sisi Keseimbangan Dalam Beribadah

Keseimbangan dalam kehidupan merupakan kecendrungan diri dalam berbuat sesuatu yang diinginkan. Perlunya kesimbangan sangat diperlukan agar prioritas dalam kehidupan tidak tumpang tindih dan bisa mengakibatkan sebagian lain diacuhkan. Terlebih dalam keseimbangan dalam hal beribadah, dalam tulisan ini akan dibahas secara sederhana terkait cara mengelola keseimbangan beribadah dalam kehidupan sehari-hari.

Alternatif dalam menjalankan dan menerapkan keseimbangan dalam beribadah sehari-hari  di antaranya ialah:

1. Memprioritaskan Pelaksanaan Ibadah Fardhu

Bagi setiap muslim, wajib hukumnya menunaikan ibadah fardhu(wajib) secara maksimal dan sempurna. Tidak boleh seseorang baginya meninggalkan ibadah fardhu, kecuali ada udzur syar’i. Kemudian, ia hendaknya menambah ibadah-ibadah-ibadah tersebut dengan ibadah sunah sesuai dengan peluang dan kemampuan yang ia miliki.atprayer

2. Menunaikan Ibadah Sunah Merupakan Kewajiban Bagi Pencari Derajat Tinggi

Bagi seorang muslim yang menginginkan derajat tinggi, haruslah melaksanakan ibadah-ibadah sunah sesuai dengan tingkat kemampuannya. Karena banyak alasan seperti bekerja untuk mencari nafkah, menuntut ilmu dan lain-lain bisa dikemukakan sehingga ia tidak punya kesempatan untuk melaksanakan ibadah sunah. Fudhail bin Iyadh ra. pernah berkata, “Jika engkap tidak mampu qiyamul lail dan puasa sunah, maka ketahuilah bahwa dirimu diharamkan darinya, disebabkan dosa-dosa yang menempel pada dirimu”.

3. Keinginan Kuat

Keinginan kuat adalah prasyarat utama bagi seorang muslim agar mampu melaksanakan ibadah sunah. Sebuah contoh tentang hal ini ditunjukkan oleh sosok Abu Muslim AL-Khaulany, seorang pemimpin tabi’in. Jika ia mulai merasa malas, enggan dan lemah dalam menunaikan ibadah ia memukuli dan mencambuki kakinya sekali atau dua kali.

Sifat malas, lemah dan mencari-cari alasan akan menjauhkan kita dari Allah dalam melaksanakan ibadah sunah.

4. Memenuhi Hak-Hak Keluarga

Sebelum melakukan ibadah sunah, bagi seorang muslim, hendaknya terlebih dahulu menunaikan hak-hak suami, istri dan anak-anak serta hal -hal yang berhubungan dengan tanggung jawabnya sebagai suami dan istri ataupun ibu dan bapak.

Dalam kaitan ini, Abu Darda’ ra. berkata, “Sebelum kerasulan Muhammad, profesiku sebagai pedagang. Setelah menjadi muslim, aku berusaha memadukan antara sibuk beribadah dan juga berdagang, namun gagal. Maka, aku tinggalkan berdagang untuk beribadah.”

Sebaliknya, Imam Adz-Dzahabi mengatakan sikap yang lebih utama adalah tetap memadukan antara keduanya sambil diiringi usaha yang maksimal pada masing-masing. Pemikiran Adz-Dzahabi inilah yang banyak diikuti oleh sebagian besar salafus shalih.

Memang, hal itu semua tegantung dari kondisi pribadi, kemampuan, jiwa, karakter, dan kesiapan masing-masing individu. Ada di antara sebagian orang yang mampu memadukannya dengan baik, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar ra., Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abdullah Al-Mubarak. Sebagian lagi tidak mampu memadukannya dengan memprioritaskan pada ibadah. Sementara sebagian lainnya berupaya mampu di awal kegiatan untuk kemudian melemah. Setiap orang sangat mungkin mengalami hal itu. Namun, hal terpenting adalah perlu ada niat yang kuat untuk memenuhi hak-hak suami, istri, dan keluarga.

keseimbangan-kerja-dan-keluarga-work-life-balanceDiriwiyatkan oleh Imam Bukhari dari Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya bahwa, “Rasulullah SAW., telah mempersaudarakan Salman dan Abu Darda ra. Suatu ketika, Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’. Di rumah Abu Darda, Salman melihat istri Abu Darda’ dalam kondisi memprihatinkan. Kemudian, ia bertanya kepadanya, Apa gerangan yang membuatmu seperti itu? Ia menjawab, Saudaramu Abu Darda’ tidak begitu butuh dan peduli kepada dunia. Lalu, datanglah ketika itu Abu Darda’ dengan membawa oleh-oleh berupa makanan. Ia berkata pada Salman, makanlah, saya sedang berpuasa hari ini. Lalu, Salman berkata, saya tidak akan makan sampai engkau juga ikut makan. Ketika datang waktu malam, Abu Darda’ segera bangun dan shalat malam. Abu Darda’ segera bangun dan shalat malam. Salman berkata kepadanya, ‘Tidurlah dulu’. Kemudian ia tertidur. Tak lama kemudian, ia bangun lagi untuk shalat malam. Melihat hal itu, Salman berkata lagi, ‘Tidurlah dulu!’. Ketika sepertiga malam telah tiba, Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah!’ Kemudian keduanya melaksanakan qiyamullail. Ketika itu Salman berkata, ‘Sesungguhnya Rabbmu (hai Abu Darda’), dirimu dan keluargamu mempunyai hak atas dirimu yang harus engkau penuhi secara adil. Maka, setelah itu Abu Darda’ menemui Rasulullah dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Rasulullah akhirnya bersabda, ‘Benarlah apa yang dikatakan oleh Salman’. ”

5. Tidak Pilih-Pilih Dalam Beribadah

Dalam melaksanakan ibadah sunah, hendaklah kita tidak terbatas pada ibadah yang bersifat badaniyah dan pribadi. Namun, hendaklah kita melengkapinya dengan jenis ibadah yang bermanfaat bagi umum, seperti menuntut ilmu, beramar ma’ruf nahi munkar, mengajarkan ilmu pengetahuan, suka bersedekah dan lain-lain. Hal tersebut penting, sebab bisa bermanfaat secara luas di mayarakat, sementara ibadah badaniyah terbatas pada individunya.

Manajemen Kesimbangan Dalam Kehidupan

Leave a Reply

Top